Jabatan:
Spesialis Sarkoma Abdomen dan Pelvis, Pusat Diagnostik & Terapi Presisi Kanker, RS Chanyi Foshan Wakil Ketua Aliansi MDT Kanker Kolorektal Tiongkok
Kanker usus besar
Kanker usus besar adalah tumor ganas yang berkembang dari lapisan epitel mukosa usus besar. Penyakit ini merupakan salah satu kanker yang cukup sering terjadi pada saluran pencernaan, dengan angka kejadian dan tingkat kematian yang relatif tinggi, serta menunjukkan kecenderungan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat secara signifikan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup pasien.
Gejala Kanker Usus Besar
Pada tahap awal, gejala kanker usus besar sering tidak jelas. Seiring perkembangan penyakit, secara bertahap dapat muncul gejala berikut:
1. Perubahan kebiasaan buang air besar: seperti diare, sembelit, atau diare dan sembelit yang terjadi bergantian, serta frekuensi buang air besar yang meningkat atau menurun.
2. Perubahan bentuk dan sifat tinja: tinja menjadi lebih kecil atau tipis, disertai darah (merah segar atau merah gelap), lendir, atau tinja bercampur nanah dan darah.
3. Nyeri dan rasa tidak nyaman di perut: biasanya berupa nyeri ringan, rasa penuh, atau kram. Lokasi nyeri bisa berbeda tergantung letak tumor.
4. Benjolan di perut: pada sebagian pasien dapat teraba benjolan yang keras dan menetap di perut, yang bisa merupakan tumor itu sendiri atau kelenjar getah bening yang menyebar.
5. Gejala umum: pada tahap lanjut dapat muncul anemia, penurunan berat badan, kelelahan, demam ringan, dan kondisi tubuh yang semakin melemah.
6. Gejala sumbatan usus: ketika tumor menyumbat saluran usus, dapat terjadi perut kembung, muntah, serta berhentinya buang air besar dan buang gas.
Diagnosis Kanker Usus Besar
1. Pemeriksaan Skrining
· Tes darah samar pada feses (FOBT): Pemeriksaan sederhana tanpa tindakan khusus untuk mendeteksi adanya darah pada tinja. Biasanya digunakan sebagai pemeriksaan awal. Jika hasilnya positif, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan.
· Kolonoskopi: Pemeriksaan ini dianggap sebagai cara paling akurat untuk mendeteksi kanker usus besar. Dokter dapat melihat langsung bagian dalam usus besar dan mengambil sampel jaringan untuk diperiksa.
· Pemeriksaan pencitraan: Seperti CT scan perut, MRI, atau barium enema, yang dapat membantu mendeteksi adanya benjolan atau kelainan di usus.
2. Pemeriksaan untuk Memastikan Diagnosis
· Biopsi jaringan (patologi): Sampel jaringan diambil dari usus, lalu diperiksa di laboratorium untuk memastikan apakah itu kanker dan mengetahui jenisnya. Ini adalah pemeriksaan paling penting untuk menegakkan diagnosis.
· Pemeriksaan pencitraan lanjutan: CT scan atau MRI digunakan untuk melihat apakah kanker sudah menyebar ke bagian lain, seperti kelenjar getah bening atau organ lain. CT scan dada digunakan untuk memeriksa paru-paru, sedangkan pemeriksaan tulang untuk melihat kemungkinan penyebaran ke tulang. PET-CT digunakan untuk melihat penyebaran kanker secara menyeluruh, terutama pada kondisi yang sudah lanjut.
· Pemeriksaan laboratorium: Meliputi tes darah untuk melihat kondisi anemia, pemeriksaan penanda tumor seperti CEA dan CA19-9 untuk membantu diagnosis dan memantau pengobatan, serta pemeriksaan fungsi hati dan ginjal.

Pengobatan Kanker Usus Besar
Kami mengikuti pedoman National Comprehensive Cancer Network dan data klinis Asia, serta memberikan strategi pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi serta stadium penyakit setiap pasien:
1. Kanker Usus Besar Stadium Awal (Stadium I–II): Fokus pada Penyembuhan dan Menjaga Fungsi Organ.
· Operasi minimal invasif: Melalui operasi laparoskopi atau robot Da Vinci untuk mengangkat tumor, dengan trauma yang kecil dan pemulihan yang cepat. Pasien dapat turun dari tempat tidur dalam 3–5 hari setelah operasi, dengan tingkat kekambuhan lokal <5%. Bagi pasien yang memiliki kebutuhan mempertahankan kesuburan atau fungsi organ, rencana operasi disusun secara tepat untuk memaksimalkan fungsi organ.
· Perawatan setelah operasi: Tidak memerlukan kemoterapi, hanya perlu tindak lanjut rutin (kolonoskopi setiap 6 bulan dan pemeriksaan penanda tumor). Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun dapat mencapai 90%–95%.
2. Kanker Usus Besar Stadium Menengah (Stadium III): Terapi Kombinasi untuk Mencegah Kekambuhan
· Operasi + kemoterapi: Pertama dilakukan operasi radikal untuk mengangkat tumor dan kelenjar getah bening, kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi menggunakan regimen standar internasional (seperti FOLFOX, CAPOX) yang dikombinasikan dengan obat target seperti, untuk menghilangkan mikrometastasis. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun meningkat menjadi 50%–70%.
· Terapi sebelum operasi: Untuk tumor yang sudah cukup besar atau menyebar di area sekitar, radioterapi presisi menggunakan CyberKnife dan kemoterapi yang dilakukan sebelum operasi dapat membantu mengecilkan ukuran tumor. Dengan cara ini, peluang keberhasilan operasi bisa meningkat (dari 70% menjadi 85%) dan risiko komplikasi setelah operasi juga dapat berkurang.
3. Kanker Usus Besar Stadium Lanjut (Stadium IV): Terapi untuk Memperpanjang Harapan Hidup
· Terapi kombinasi target dan imun: Berdasarkan tipe molekuler seperti RAS tipe liar atau mutasi BRAF, dipilih obat yang sesuai seperti antibodi anti-EGFR atau penghambat PD-1. Tingkat respons objektif dapat mencapai 50%–60%. Pada pasien dengan metastasis terbatas di hati atau paru-paru, kombinasi operasi dan terapi ablasi dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun hingga 30%–40%.
· Perawatan paliatif: Dikombinasikan dengan manajemen nyeri dan dukungan nutrisi untuk memperpanjang kelangsungan hidup sekaligus menjaga kualitas hidup pasien.

Kasus Pasien
Pasien dari Malaysia, Mr. Lee (62 tahun, kanker usus besar stadium III): Pasien menjalani operasi dengan bantuan robot, kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi. Setelah 2 tahun, tidak ditemukan tanda kanker kambuh, dan saat ini pasien sudah kembali beraktivitas normal.
Pasien dari Thailand, Ms. Siri (45 tahun, kanker usus besar stadium IV dengan penyebaran ke hati): Setelah menjalani terapi target dan imun, ukuran tumor yang menyebar mengecil hingga 80%. Pasien kemudian menjalani operasi pengangkatan tumor di hati, dan hingga saat ini, setelah 18 bulan pemantauan, kondisi penyakit tidak menunjukkan perkembangan.
Pertanyaan Terkait Kanker Usus Besar
1. Siapa saja yang berisiko tinggi terkena kanker usus besar?
· Orang yang berusia di atas 40 tahun
· Orang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker usus besar, terutama jika terjadi di usia muda
· Orang yang pernah memiliki polip di usus besar
· Penderita radang usus kronis, seperti kolitis ulseratif atau penyakit Crohn
· Orang dengan gaya hidup tidak sehat, seperti sering makan makanan tinggi lemak dan rendah serat, merokok, minum alkohol berlebihan, kelebihan berat badan, dan jarang berolahraga
2. Bagaimana cara mencegah kanker usus besar?
· Perbaiki pola makan: Perbanyak makan sayur, buah, dan makanan berserat. Kurangi makanan berlemak, gorengan, dan daging olahan.
· Jalani gaya hidup sehat: Berhenti merokok, batasi minum alkohol, rutin berolahraga, dan jaga berat badan tetap ideal.
· Tangani penyakit sejak dini: Jika ada polip di usus, segera diangkat. Jika memiliki radang usus kronis, lakukan pengobatan secara teratur.
· Lakukan pemeriksaan rutin: Orang usia di atas 40 tahun disarankan melakukan tes darah pada tinja secara berkala dan kolonoskopi setiap 5–10 tahun. Untuk yang berisiko tinggi, pemeriksaan sebaiknya dimulai lebih awal dan dilakukan lebih sering.
3. Bagaimana tindak lanjut setelah pengobatan kanker usus besar?
· Dalam 2 tahun pertama setelah operasi, pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan, meliputi tes darah lengkap, penanda tumor (CEA, CA19-9), dan USG perut.
· Setiap 6 bulan, dilakukan pemeriksaan CT scan atau MRI perut, serta kolonoskopi setiap 1 tahun.
· Setelah 2 tahun, pemeriksaan dilakukan setiap 6 bulan, dan setelah 5 tahun, dilakukan setiap 1 tahun. Tindak lanjut ini dilakukan seumur hidup untuk mendeteksi kemungkinan kekambuhan atau penyebaran sejak dini.
4. Bagaimana prognosis pasien kanker usus besar?
· Prognosis sangat berkaitan dengan stadium kanker: Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun pada stadium I sekitar 90%, stadium II sekitar 70%–80%, stadium III sekitar 50%–60%, dan stadium IV sekitar 10%–20%.
· Deteksi dan pengobatan sejak dini sangat penting: Jika kanker ditemukan lebih awal dan ditangani dengan tepat, peluang sembuh lebih besar. Pemeriksaan rutin setelah pengobatan juga penting untuk mencegah kanker kambuh dan membantu memperpanjang usia pasien.
Jika Anda atau keluarga Anda didiagnosis kanker usus besar, wajar jika merasa khawatir dan bingung. Pada kondisi ini, dukungan dan penanganan yang tepat sangat penting untuk membantu proses pengobatan.

Departemen kanker di rumah sakit kami menggunakan sistem kerja tim (MDT), yang melibatkan dokter dari berbagai bidang seperti bedah saluran pencernaan, dokter kanker, radioterapi, radiologi, dan patologi. Kami memberikan pelayanan lengkap untuk pasien kanker usus besar, mulai dari pemeriksaan yang akurat, penentuan pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien, hingga perawatan dan pemantauan setelah pengobatan. Rencana pengobatan akan disesuaikan dengan stadium kanker, kondisi tubuh pasien, dan hasil pemeriksaan genetik. Pengobatan dapat berupa operasi, kemoterapi, terapi target, dan imunoterapi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan hasil pengobatan yang maksimal dan membantu meningkatkan kualitas hidup pasien. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut, ingin berkonsultasi dengan dokter, atau membutuhkan bantuan medis, silakan hubungi kami kapan saja.